Harga Material Bangunan Melonjak Pascabanjir, Program Revitalisasi Sekolah di Aceh Tamiang Terancam Terganggu

Editor: Syarkawi author photo

 


ACEH TAMIANG – Pascabencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang, pemerintah pusat dan daerah terus menggelontorkan berbagai bantuan untuk percepatan pemulihan wilayah terdampak. 

Selain bantuan kemanusiaan, sejumlah program rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) rumah warga serta fasilitas umum yang rusak akibat banjir juga tengah berjalan.

Meningkatnya aktivitas pembangunan tersebut berdampak pada tingginya kebutuhan material konstruksi seperti semen, pasir, kerikil, besi, seng, dan bahan bangunan lainnya. 

Namun, di tengah upaya percepatan pemulihan pascabencana, muncul persoalan baru berupa lonjakan harga sejumlah material bangunan di pasaran.

Kondisi tersebut mulai dikeluhkan oleh pihak sekolah yang saat ini sedang melaksanakan Program Bantuan Revitalisasi Sekolah dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Mereka menilai kenaikan harga material, terutama semen, berpotensi mengganggu pelaksanaan pekerjaan yang sedang berlangsung.

Salah seorang perwakilan sekolah yang ditemui awak media mengaku khawatir terhadap lonjakan harga yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Menurutnya, anggaran yang telah disusun dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) mengacu pada harga material sebelum terjadi kenaikan.

“Dalam RAB kami, harga semen dianggarkan sekitar Rp60 ribu per sak. Saat ini harganya sudah mencapai Rp65 ribu hingga Rp75 ribu per sak. Selain itu, pasokan di sejumlah pengecer juga mulai terbatas,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada semen. Harga pasir yang sebelumnya berkisar Rp300 ribu per truk kini meningkat hingga Rp600 ribu. 

Begitu pula harga seng yang naik dari Rp52 ribu menjadi Rp72 ribu per lembar, serta harga paku yang meningkat dari Rp15 ribu menjadi Rp20 ribu per kilogram.

“Kenaikan harga ini tentu sangat memberatkan. Jika kondisi terus berlanjut, kami khawatir proses revitalisasi sekolah akan mengalami kendala dan tidak dapat diselesaikan sesuai jadwal yang telah ditetapkan,” katanya.

Menurutnya, situasi tersebut perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan instansi terkait. Di tengah tingginya kebutuhan material untuk mendukung program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, jangan sampai ada pihak yang memanfaatkan kondisi tersebut untuk mengambil keuntungan secara berlebihan.

“Kami tidak mempermasalahkan keuntungan yang wajar dalam dunia usaha. Namun jika kenaikan harga terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan kondisi pasar, tentu akan berdampak pada berbagai program pembangunan yang sedang berjalan,” tambahnya.

Masyarakat dan para pelaksana kegiatan pembangunan berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang bersama instansi terkait segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan pengawasan terhadap distribusi serta harga material bangunan di pasaran.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah praktik penimbunan maupun permainan harga yang berpotensi menghambat proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. 

Dengan pengawasan yang efektif, diharapkan ketersediaan material tetap terjaga dan harga dapat terkendali sehingga berbagai program pemulihan, termasuk revitalisasi sekolah dan rehabilitasi rumah warga, dapat berjalan lancar demi mempercepat kebangkitan Aceh Tamiang pascabencana.[]

Share:
Komentar

Berita Terkini