![]() |
| Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menjadi narasumber pada kegiatan Joint Response Learning Workshop Sumatera HEAL di Banda Aceh, Senin (15/6/2026). |
BANDA ACEH – Pemerintah Aceh terus memperkuat komitmennya dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif, tangguh, dan responsif terhadap berbagai situasi darurat.
Komitmen tersebut kembali ditegaskan oleh Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, saat menjadi narasumber pada kegiatan Joint Response Learning Workshop Sumatera HEAL yang berlangsung di Banda Aceh, Senin (15/6/2026).
Kegiatan yang mempertemukan pemangku kepentingan dari sektor pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, serta lembaga mitra pembangunan itu menjadi forum strategis untuk berbagi pengalaman, praktik baik, dan pembelajaran dalam upaya pemulihan pendidikan pascabencana.
Workshop tersebut juga menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor guna memastikan keberlangsungan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik, khususnya mereka yang terdampak bencana alam maupun kondisi darurat lainnya.
Dalam pemaparannya, Murthalamuddin menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk memulihkan kondisi psikologis setelah mengalami situasi krisis.
Menurutnya, perhatian terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan psikososial peserta didik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pemulihan pendidikan.
“Ketika bencana terjadi, yang terdampak bukan hanya infrastruktur sekolah, tetapi juga kondisi emosional dan psikologis anak-anak. Karena itu, pemulihan pendidikan harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya membangun kembali fasilitas fisik, tetapi juga memulihkan semangat belajar dan rasa aman peserta didik,” ujar Murthalamuddin.
Dalam forum tersebut, peserta mendiskusikan berbagai tantangan dalam penyelenggaraan layanan pendidikan di daerah terdampak bencana. Mulai dari pemerataan bantuan pendidikan, akses terhadap fasilitas belajar yang layak, hingga penguatan kapasitas guru dalam memberikan pendampingan psikososial kepada siswa menjadi topik utama pembahasan.
Murthalamuddin juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi kemanusiaan, komunitas, dan masyarakat dalam membangun sistem pendidikan yang lebih siap menghadapi berbagai risiko di masa depan.
Menurutnya, keberhasilan pemulihan pendidikan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan sinergi dan kerja sama yang berkelanjutan.
Ia menambahkan, Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan terus menghadirkan kebijakan yang adaptif dan berpihak pada kebutuhan peserta didik. Berbagai program penguatan pendidikan inklusif, peningkatan kapasitas tenaga pendidik, serta dukungan bagi sekolah terdampak bencana terus dikembangkan agar tidak ada anak yang kehilangan hak untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas.
Workshop Sumatera HEAL juga menjadi sarana pembelajaran bersama dalam merumuskan langkah-langkah strategis guna meningkatkan ketahanan sektor pendidikan di wilayah Sumatera. Berbagai pengalaman dari daerah yang pernah menghadapi bencana dibagikan sebagai referensi dalam menyusun model penanganan yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan lahir berbagai rekomendasi dan kebijakan yang mampu memperkuat sistem pendidikan yang inklusif, berkeadilan, dan berorientasi pada kebutuhan anak.
Pendidikan yang tangguh diyakini menjadi fondasi penting dalam membangun generasi masa depan yang mampu bangkit dan berkembang di tengah berbagai tantangan.
Dengan semangat kolaborasi dan pembelajaran bersama, Aceh terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan layanan pendidikan yang berkualitas bagi seluruh anak tanpa terkecuali. Pendidikan bukan sekadar hak dasar, tetapi juga harapan yang akan menentukan masa depan bangsa.[]
