Mengenang Abu Doto, Pewaris Marwah Diplomasi Aceh di Pentas Dunia

Editor: Syarkawi author photo

 


BANDA ACEH – Masyarakat Aceh kembali berduka atas wafatnya salah satu putra terbaik daerah, Dr. drg. H. Zaini Abdullah atau yang akrab disapa Abu Doto. Mantan Gubernur Aceh periode 2012–2017 itu dikenang bukan hanya sebagai pemimpin daerah, tetapi juga sebagai tokoh penting yang berperan dalam perjalanan sejarah perjuangan dan perdamaian Aceh.

Perjalanan hidup Abu Doto membentang dari masa perjuangan di pedalaman Aceh, pengasingan politik di Swedia, hingga menjadi salah satu figur sentral dalam diplomasi internasional yang mengantarkan lahirnya perdamaian Aceh melalui Perjanjian Helsinki.

Sekretaris Jenderal Yayasan Cakra Donya Atjeh, Irwan Syahputra atau Syech Wan, menyebut kemampuan diplomasi yang ditunjukkan Zaini Abdullah bersama para tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) merupakan cerminan marwah Aceh yang sejak masa lampau telah dikenal memiliki hubungan luas dengan dunia internasional.

Dari Dokter Lapangan Menjadi Tokoh Perjuangan

Lahir di Kabupaten Pidie, Zaini Abdullah menempuh pendidikan kedokteran gigi dan berkarier sebagai tenaga medis. Namun kecintaannya terhadap Aceh membawanya memilih jalan perjuangan yang penuh risiko.

Saat Teungku Muhammad Hasan di Tiro mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 4 Desember 1976, Zaini Abdullah bergabung dalam barisan perjuangan. 

Dengan latar belakang medis yang dimilikinya, ia bertugas sebagai dokter lapangan yang merawat para pejuang di tengah keterbatasan fasilitas dan kondisi medan yang berat.

Dedikasinya kemudian mengantarkannya menduduki posisi sebagai Menteri Kesehatan dalam struktur pemerintahan GAM.

Diplomasi dari Pengasingan

Ketika konflik Aceh memasuki fase yang semakin kompleks, sejumlah pimpinan GAM, termasuk Hasan di Tiro dan Zaini Abdullah, memilih jalur diplomasi internasional dari luar negeri.

Abu Doto kemudian menetap di Swedia dan memperoleh kewarganegaraan negara tersebut. Di sana, ia kembali berpraktik sebagai dokter sembari tetap aktif menjalankan aktivitas diplomasi politik untuk memperjuangkan penyelesaian konflik Aceh di tingkat internasional.

Menurut Syech Wan, langkah diplomasi yang ditempuh Abu Doto dan Hasan di Tiro sejatinya merupakan kelanjutan dari tradisi hubungan internasional Aceh yang telah berlangsung sejak masa Kesultanan Aceh.

Ia merujuk pada sejumlah arsip kolonial Belanda yang mencatat kekuatan politik, militer, dan jaringan diplomasi Aceh, termasuk hubungan historis dengan berbagai negara dan kerajaan di dunia.

Dari Kesultanan Aceh hingga Helsinki

Jejak diplomasi Aceh, menurut Syech Wan, dapat ditelusuri dari hubungan Kesultanan Aceh Darussalam dengan Kekhalifahan Turki Utsmani pada abad ke-16 hingga ke-19.

Sejumlah dokumen kolonial Belanda mencatat penggunaan simbol-simbol yang memiliki keterkaitan dengan Turki Utsmani, termasuk panji-panji perang yang digunakan pasukan Aceh.

Warisan diplomasi tersebut dinilai kembali hidup dalam perjuangan politik yang dilakukan Abu Doto selama masa pengasingan. 

Puncaknya terjadi pada 15 Agustus 2005 saat penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki di Finlandia yang mengakhiri konflik bersenjata Aceh selama hampir tiga dekade.

Kesepakatan damai itu membuka babak baru pembangunan Aceh dalam suasana yang lebih aman dan kondusif.

Membawa Semangat Perjuangan ke Masa Damai

Pasca-perdamaian, Zaini Abdullah terjun ke dunia politik formal. Bersama Muzakir Manaf (Mualem), ia memenangkan Pilkada Aceh dan menjabat sebagai Gubernur Aceh periode 2012–2017.

Pada masa kepemimpinannya, fokus pembangunan diarahkan pada pemulihan pascakonflik, rekonstruksi pascatsunami, serta penguatan identitas Aceh sebagai daerah yang religius dan terbuka terhadap dunia.

Salah satu warisan yang masih dapat dinikmati masyarakat hingga kini adalah revitalisasi kawasan Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh. 

Pada masa kepemimpinannya, masjid kebanggaan masyarakat Aceh tersebut dilengkapi 12 payung elektrik raksasa yang terinspirasi dari Masjid Nabawi di Madinah.

Keberadaan payung-payung tersebut menjadikan Masjid Raya Baiturrahman semakin dikenal sebagai ikon wisata religi dan kebanggaan masyarakat Aceh.

Selamat Jalan, Abu Doto

Syech Wan menilai perjalanan hidup Abu Doto, mulai dari masa perjuangan di pedalaman Aceh, pengasingan di Swedia, hingga keterlibatannya dalam proses damai di Finlandia, menjadi bukti bahwa diplomasi dan dialog mampu menghadirkan solusi bagi konflik yang berkepanjangan.

“Perjalanan Abu Doto bersama Hasan di Tiro dari hutan, menetap di Swedia, hingga berunding di Finlandia menunjukkan bahwa Aceh mampu memperjuangkan masa depannya melalui diplomasi yang bermartabat dan terhormat,” ujarnya.

Kepergian Abu Doto meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Aceh. Ribuan pelayat mengantarkan jenazahnya dalam prosesi penghormatan terakhir sebelum dimakamkan di Gampong Trienggadeng Trubue, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie.

Kini, sosok dokter, diplomat, pejuang, sekaligus negarawan itu telah berpulang. Namun jejak pengabdian, pemikiran, dan kontribusinya bagi Aceh akan tetap dikenang sebagai bagian penting dari sejarah perjalanan daerah ini menuju perdamaian dan kemajuan.[]

Share:
Komentar

Berita Terkini