KOTA JANTHO – Aroma santan yang mengepul dari tungku kayu bakar berpadu dengan harum tepung beras yang mulai matang. Di berbagai gampong di Pulo Aceh, warga berkumpul mengelilingi belanga dan tungku sejak pagi.
Tawa, canda, dan percakapan hangat mengiringi proses memasak yang telah diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun.
Pemandangan tersebut selalu hadir setiap peringatan Hari Asyura, 10 Muharram. Bagi masyarakat Aceh, khususnya di kawasan pesisir Pulo Aceh, momentum itu bukan sekadar peringatan dalam kalender Islam, melainkan juga ruang untuk merawat tradisi, mempererat silaturahmi, dan meneguhkan nilai kebersamaan melalui tradisi Toet Apam dan Bubur Asyura.
Di sejumlah gampong, kaum ibu tampak sibuk menyiapkan adonan apam yang terbuat dari tepung beras, santan, air kelapa, dan sedikit garam. Adonan tersebut kemudian dimasak menggunakan cetakan atau belanga tanah liat di atas bara kayu bakar.
Proses memasaknya membutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Apam yang matang sempurna ditandai dengan pori-pori halus di permukaannya. Setelah siap disajikan, apam biasanya dinikmati bersama kuah tuhe, kolak santan manis berisi potongan pisang dan nangka, atau ditaburi kelapa parut.
Namun, bagi masyarakat Aceh, apam bukan sekadar makanan tradisional. Setiap lembar apam yang dibagikan kepada tetangga, kerabat, maupun tamu mengandung pesan tentang sedekah, kepedulian, dan eratnya hubungan sosial antarwarga.
Tak jauh dari lokasi pembuatan apam, aktivitas serupa juga terlihat di sekitar kawah besar Bubur Asyura atau yang dikenal masyarakat Aceh sebagai Ie Bu Kanji.
Puluhan warga bergotong royong menyiapkan berbagai bahan, mulai dari rempah-rempah, sayuran, hingga umbi-umbian yang kemudian diolah menjadi bubur khas dengan cita rasa yang kaya.
Memasak Bubur Asyura merupakan pekerjaan bersama. Ada yang memotong bahan, meracik bumbu, menjaga api, hingga mengaduk bubur secara bergantian selama berjam-jam. Seluruh proses dilakukan dengan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas kehidupan masyarakat Aceh.
Saat bubur matang, hidangan tersebut dibagikan kepada masyarakat, santri, dan siapa saja yang hadir. Tidak ada perbedaan antara yang memasak dan yang menikmati. Semua duduk bersama dalam suasana penuh keakraban.
Camat Pulo Aceh, Jamaluddin, S.E., mengatakan tradisi Toet Apam dan Bubur Asyura tahun ini berlangsung meriah, baik di Pulau Breuh maupun Pulau Nasi.
Menurutnya, antusiasme masyarakat terus meningkat, terlebih setelah adanya ajakan dari Bupati Aceh Besar, Muharram Idris, agar seluruh gampong terus menghidupkan tradisi tersebut sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya daerah.
“Tradisi ini bukan hanya tentang mempertahankan kuliner warisan leluhur, tetapi juga menjadi sarana memperkuat persaudaraan dan kebersamaan di tengah masyarakat,” ujarnya, Kamis (25/6/2026).
Ia menambahkan, di tengah derasnya arus modernisasi dan semakin mudahnya budaya luar masuk ke kehidupan masyarakat, warga Pulo Aceh tetap berkomitmen menjaga tradisi yang diwariskan para pendahulu.
“Toet Apam dan Bubur Asyura mengajarkan bahwa tradisi bukan sekadar tentang makanan. Ia adalah cerita tentang kebersamaan, tentang tangan-tangan yang bekerja tanpa pamrih, tentang sedekah yang dilakukan dengan ikhlas, serta tentang identitas masyarakat Aceh yang terus hidup dari generasi ke generasi,” kata Jamaluddin.
Seperti yang terlihat di Gampong Pasie Janeng dan Gampong Lamteng, Pulau Nasi, warga sejak pagi telah berkumpul untuk memasak apam dan Bubur Asyura secara bersama-sama dalam rangka memperingati 10 Muharram 1448 Hijriah.
Selama asap tungku kayu bakar masih mengepul di halaman rumah-rumah warga dan sendok pengaduk Bubur Asyura masih bergantian dipegang oleh masyarakat, selama itu pula denyut kebudayaan Aceh akan terus hidup—menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu tradisi yang sarat makna dan tak lekang oleh waktu.[]
