BANDA ACEH – Diabetes dan kebiasaan merokok kini tidak lagi identik dengan kelompok usia dewasa. Pola konsumsi makanan tinggi gula serta paparan rokok sejak usia remaja meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular di masa mendatang.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi diabetes berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah pada penduduk usia 15 tahun ke atas terus meningkat dibandingkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Pada saat yang sama, sebanyak 7,4 persen penduduk Indonesia berusia 10–18 tahun tercatat sebagai perokok, dengan sebagian besar mulai merokok pada rentang usia 15–19 tahun.
Kondisi tersebut menjadi alasan pentingnya membangun literasi kesehatan sejak dini agar remaja mampu mengambil keputusan yang lebih sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Menjawab tantangan itu, Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) berkolaborasi dengan Posyandu Remaja Gampong Lamjabat (Posyandu Bijeh Mata) menggelar edukasi kesehatan bagi 20 remaja di Gampong Lamjabat, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, Jumat (17/7/2026).
Kegiatan ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan membaca Informasi Nilai Gizi (ING) pada makanan dan minuman kemasan, sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai bahaya rokok melalui metode edukasi yang interaktif.
Edukator GEN-A, Ns. Sabarina, S.Kep., Awardee LPDP PK Angkatan 276 sekaligus mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Padjadjaran, menjelaskan pentingnya memahami Informasi Nilai Gizi secara benar, khususnya terkait jumlah gula yang dikonsumsi.
"Banyak orang hanya melihat jumlah gula per sajian, padahal yang juga harus diperhatikan adalah jumlah sajian dalam satu kemasan. Jika satu botol berisi lebih dari satu sajian dan dihabiskan sekaligus, maka gula yang dikonsumsi jauh lebih banyak daripada yang tercantum per sajian.
Memahami Informasi Nilai Gizi merupakan keterampilan sederhana yang dapat membantu remaja dan keluarga mengendalikan konsumsi gula setiap hari," jelasnya.
Dalam sesi praktik, peserta diajarkan menghitung total gula yang dikonsumsi berdasarkan jumlah sajian. Sebagai contoh, minuman yang mengandung 22 gram gula per sajian dengan 1,5 sajian per kemasan berarti mengandung total 33 gram gula jika dihabiskan sekaligus. Jumlah tersebut telah melampaui batas konsumsi gula harian yang dianjurkan bagi anak usia sekolah.
Peserta juga diperkenalkan dengan batas konsumsi gula tambahan harian, yaitu maksimal 19 gram untuk anak usia 2–6 tahun, 24 gram untuk usia 7–10 tahun, dan sekitar 30 gram untuk remaja serta orang dewasa.
Melalui simulasi menggunakan berbagai produk minuman yang umum dikonsumsi remaja, peserta belajar membandingkan kandungan gula dengan batas konsumsi harian sehingga mampu menentukan pilihan yang lebih sehat.
Materi tersebut mendapat respons positif dari peserta. Salah seorang remaja mengaku baru mengetahui bahwa informasi kandungan gula pada label tidak selalu menunjukkan jumlah gula dalam seluruh isi kemasan.
"Kami biasa menghabiskan satu kotak susu sekaligus. Baru tahu ternyata di kemasan tertulis jumlah sajiannya, sehingga gula yang diminum bisa lebih banyak dari yang kami kira," ujarnya.
Pada sesi berikutnya, Edukator GEN-A, Ns. Zafira Nabilah, S.Kep., bersama Diva Aulia mengajak peserta berdiskusi mengenai bahaya merokok melalui pendekatan reflektif.
"Di bungkus rokok sudah ada peringatan bahaya merokok dengan gambar yang jelas. Lalu mengapa masih banyak orang tetap merokok?" tanyanya kepada peserta.
Diskusi kemudian mengulas pengaruh lingkungan, rasa ingin mencoba, hingga ketergantungan nikotin yang menyebabkan kebiasaan merokok sulit dihentikan. Peserta juga diajak memahami bahwa pilihan terbaik untuk menjaga kesehatan adalah tidak pernah mulai merokok.
Direktur Eksekutif GEN-A, dr. Imam Maulana, menegaskan bahwa literasi kesehatan harus mampu membekali remaja dengan keterampilan praktis dalam mengambil keputusan yang sehat.
"Remaja setiap hari dihadapkan pada pilihan makanan tinggi gula, minuman berpemanis, maupun rokok. Karena itu, edukasi kesehatan harus membangun kemampuan membaca informasi nilai gizi, berpikir kritis terhadap berbagai pengaruh di sekitarnya, dan berani memilih gaya hidup yang lebih sehat. Dengan kemampuan tersebut, remaja tidak hanya melindungi dirinya sendiri, tetapi juga dapat menjadi teladan bagi teman sebayanya," ujarnya.
Untuk meningkatkan antusiasme peserta, materi disampaikan melalui permainan EKSIS (Engklek Edukasi Kesehatan dan Islami) sehingga proses belajar berlangsung lebih aktif, menyenangkan, dan mudah dipahami.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pelayanan Posyandu Remaja Gampong Lamjabat yang diawali dengan pemeriksaan kesehatan.
Program tersebut juga menjadi bagian dari kolaborasi berkelanjutan antara Puskesmas Meuraxa, Posyandu Gampong di Kecamatan Meuraxa, dan Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) dalam memperkuat promosi kesehatan remaja berbasis masyarakat melalui pendampingan Kader Taman Edukasi Kesehatan Remaja (TaKasi-SeRa) sebagai agen perubahan di lingkungan masing-masing.
Melalui edukasi ini, GEN-A berharap remaja semakin terbiasa membaca Informasi Nilai Gizi, mampu mengendalikan konsumsi gula sesuai anjuran, serta berani mengatakan tidak terhadap rokok sebagai upaya mencegah penyakit tidak menular dan mewujudkan generasi muda yang sehat, kritis, serta bertanggung jawab terhadap kesehatannya.[]
