![]() |
| M. Nasir Syamaun Sekretaris Daerah Aceh |
BANDA ACEH – "Ada kopi ada cerita, lain kopi lain cerita, tak ada kopi tak usah banyak cerita, ayo ngopi kita bercerita."
Lirik lagu itu menggema di Kedai Kopi Cut Ayah, Pango, Banda Aceh, Jumat (10/7/2026) malam. Seluruh pengunjung ikut bernyanyi, membuka suasana hangat dalam gelaran Puitika Kopi, sebuah perjumpaan sastra yang memadukan puisi, musik, dan obrolan di balik aroma kopi Aceh.
"Itu lagu Rangkaian Bunga Kopi karya Yoppi Smong. Saya hanya menambahkan satu kalimat," ujar seniman Fikar W. Eda yang memandu acara.
Lagu tersebut menjadi pembuka yang mengalirkan suasana tanpa sekat. Tidak ada seremoni panjang, tidak pula sambutan formal.
Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir Syamaun, yang hadir memenuhi undangan bahkan menolak memberikan pidato.
"Tak ada yang mau mendengar sambutan seremonial. Nanti pembacaan puisi malah jadi acara basi," ujarnya, disambut tepuk tangan hadirin.
Sebagai gantinya, panitia langsung mempersilakan Nasir naik ke panggung untuk membacakan puisi. Panggungnya pun sederhana, hanya ruang kecil yang tercipta setelah beberapa meja kedai digeser.
Di sisi kiri, tumpukan kayu bakar di bawah atap rumbia tetap dibiarkan apa adanya, menjadi latar alami bagi malam sastra itu.
Di hadapan para penikmat kopi, Nasir mengawali pembacaan puisinya dengan sebuah pengakuan yang mengundang rasa penasaran.
"Puisi yang saya baca ini dibuat oleh AI. Saya meminta dibuatkan puisi tentang pejuang, lalu inilah hasilnya," katanya.
Namun, bukan puisinya yang paling menyita perhatian, melainkan kisah yang ia bagikan sebelum mulai membaca.
"Saya sebenarnya takut membaca puisi. Terakhir kali saya membacakannya pada 1995 di Balai Gading, Yogyakarta," kenangnya.
Alumni Universitas Widya Mataram dan Universitas Gadjah Mada itu kemudian mengisahkan alasan dirinya pernah memberanikan diri tampil membaca puisi.
"Waktu itu saya tertarik pada seorang gadis. Saya membeli buku puisi dan bunga. Tapi ternyata saya ditolak. Akhirnya saya gagal membaca puisi," ujarnya.
Gelak tawa langsung memenuhi kedai. Di antara hadirin, hadir pula sang istri, Malahayati.
"Ini cerita lama ya, Ma," kata Nasir sambil melirik istrinya.
"Oh ya, saya memang gagal di Yogya, tetapi akhirnya mendapatkan Bu Mala," tambahnya yang kembali disambut tawa dan tepuk tangan.
Suasana santai itu membuat jarak antara pejabat, seniman, dan masyarakat seolah menghilang. Malam pun mengalir dengan pembacaan puisi dari sejumlah penyair dan budayawan Aceh. Bahkan Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal, turut hadir sebagai pembaca puisi.
Seperti syair yang dinyanyikan di awal acara, semakin banyak kopi yang tersaji, semakin banyak pula cerita yang lahir.
Herman RN membuka ruang kegelisahan melalui puisinya yang mengisahkan cinta masyarakat Gayo kepada Indonesia yang dibalas dengan kekecewaan.
Mahasiswi Universitas Syiah Kuala, Fathya Ruziqna, menjadi pembaca puisi termuda malam itu. Ia menyuarakan keresahan terhadap kerusakan lingkungan yang memicu banjir dan menghancurkan permukiman serta lahan pertanian.
Nada yang sama dilanjutkan Jamal Syarif melalui puisi tentang perambahan hutan dan bencana yang lahir akibat ulah manusia.
"Manusia menjadi korban yang diciptakannya sendiri. Kopi belum sempat diminum habis, kedainya sudah digulung bencana," demikian salah satu penggalan puisinya.
Tema kritik sosial juga muncul melalui puisi Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthala Muddin, yang berpadu dengan penampilan lagu "Poh Bandet" karya Nazar Apache dan Mai Munzir yang dibawakan Mai Munzir.
Sementara itu, puisi "Benarkah" karya pengusaha Alwin Abdullah yang dibacakan Apa Kaoy mengajak hadirin merenungkan hakikat kemanusiaan.
"Benarkah itu manusia, sebab manusia dilahirkan bukan untuk saling membenci."
Nuansa menjadi lebih lembut ketika Devi Matahari menghadirkan kenangan tentang ibu melalui secangkir sanger dan sedotan plastik biru. Wina SW1 kemudian mengingatkan bahwa kopi bukan simbol maskulinitas semata.
"Kopi bukan milik laki-laki, juga bukan milik perempuan," demikian pesan puisinya.
Tawa kembali pecah ketika Fauzan Santa membawakan monolog tentang Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien yang berdialog di hadapan secangkir kopi, memadukan humor dengan kisah perjuangan.
Menjelang akhir acara, Kepala BPSDM Aceh, Dr. Marthunis, mengibaratkan pembangunan sumber daya manusia seperti meracik kopi berkualitas tinggi.
Sementara Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh, T. Banta Nuzullah, menghadirkan puisi "Sembilan Kata" yang mengangkat besarnya nilai ekonomi kopi Aceh.
"Dari secangkir kopi itu, ada Rp15,6 miliar setiap hari, Rp468 miliar setiap bulan, dan Rp5,6 triliun dalam setahun," ungkapnya dalam puisi.
Malam semakin larut, gelas-gelas kopi pun perlahan kosong. Namun, cerita, tawa, kritik sosial, cinta, dan harapan yang lahir dari Puitika Kopi masih tertinggal di hati para hadirin.
Sebelum meninggalkan lokasi, Sekda Aceh M. Nasir Syamaun mengaku terkesan dengan pertemuan sastra tersebut.
"Menurut saya, kita perlu lebih sering bergaul dengan seniman dan mendengarkan puisi agar dapat membuka ruang hati. Saya senang bisa bersama para seniman," ujarnya.
Malam itu membuktikan bahwa secangkir kopi bukan sekadar minuman. Di Aceh, kopi adalah ruang bertemu, berbagi cerita, menyampaikan kritik, merawat kenangan, sekaligus merayakan kemanusiaan.
Tulisan ini diadaptasi dari artikel karya Dr. Nurlis Effendi, Juru Bicara Pemerintah Aceh.
