![]() |
| Kepala BGN Nanik S. Deyang saat dilantik Presiden Prabowo di Istana Negara, Jakarta Pusat, pada Senin (8/6/2026). (Foto: Biro Pers Setpres) |
JAKARTA – Nanik S. Deyang mengungkap alasan di balik keputusannya mengundurkan diri sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), meski belum genap dua bulan memimpin lembaga yang menjadi pelaksana Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Melalui unggahan di akun media sosial pribadinya, Nanik menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil karena kondisi kesehatannya yang masih memerlukan pengobatan lanjutan, termasuk perawatan jantung di luar negeri.
Sebelum resmi mengundurkan diri, Nanik mengaku telah melaporkan perkembangan pembenahan tata kelola Program MBG kepada Presiden Prabowo Subianto saat mengikuti Taklimat Presiden dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara.
Dalam pertemuan itu, Presiden Prabowo mengarahkan agar tata kelola Program Makan Bergizi Gratis dibenahi secara menyeluruh serta dilakukan penataan ulang penerima manfaat agar bantuan lebih tepat sasaran.
"Kemarin saya mengikuti Taklimat Presiden Prabowo pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara. Dalam rapat ini, Bapak Presiden mengarahkan agar tata kelola Program Makan Bergizi Gratis dibenahi secara menyeluruh, serta melakukan refocusing penerima manfaat agar benar-benar tepat sasaran bagi mereka yang membutuhkan intervensi gizi," tulis Nanik.
Nanik juga menyampaikan kepada Presiden bahwa dirinya baru saja keluar dari rumah sakit sehingga tidak dapat menghadiri rapat terbatas di Istana pada 15 Juli 2026.
"Pada kesempatan ini, saya juga melaporkan kepada Bapak Presiden bahwa saya baru keluar dari rumah sakit. Karena itulah, pada ratas dengan Bapak Presiden di Istana tanggal 15 Juli lalu saya tidak dapat hadir karena masih dirawat di rumah sakit. Alhamdulillah, kini saya sudah bisa kembali bertugas meski masih ada pengobatan lanjutan," ungkapnya.
Paparkan Sejumlah Pembenahan Program MBG
Dalam laporannya kepada Presiden, Nanik mengungkap sejumlah langkah pembenahan yang telah mulai diterapkan di lingkungan BGN.
Menurutnya, kebijakan penghentian sementara penyaluran MBG selama masa libur sekolah, termasuk bagi kelompok penerima tertentu, serta penataan insentif bagi mitra pelaksana berhasil menghasilkan efisiensi anggaran yang signifikan.
"Saya melaporkan juga beberapa tata kelola yang mulai kami benahi, mulai dari keputusan bahwa saat libur tidak diberikan MBG baik kepada siswa maupun kelompok 3B dan juga insentif untuk mitra, sehingga pada libur kenaikan kelas kemarin sekitar Rp17,5 triliun dapat diefisienkan, terdiri dari Rp3 triliun dari insentif mitra dan Rp14,5 triliun dari penyaluran MBG. Kami juga melakukan refocusing penerima manfaat serta penilaian terhadap SPPG," jelasnya.
Ia menambahkan, Presiden Prabowo memberikan dukungan penuh terhadap langkah-langkah perbaikan tersebut.
"Pak Presiden pada intinya menyetujui seluruh upaya perbaikan dan meminta kami tidak takut mengambil keputusan selama tujuannya untuk memperbaiki sistem dan tata kelola yang ada," tulis Nanik.
Fokus Jalani Pengobatan
Nanik sebelumnya telah menyampaikan pengunduran dirinya kepada Presiden Prabowo Subianto. Keputusan itu diambil agar dirinya dapat fokus menjalani pengobatan jantung di luar negeri.
Meski meninggalkan jabatan sebagai Kepala BGN, Nanik menegaskan komitmennya terhadap pembenahan Program Makan Bergizi Gratis.
Sejumlah agenda yang telah dirintisnya meliputi efisiensi anggaran saat libur sekolah, penataan insentif mitra, refocusing penerima manfaat, serta evaluasi terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat tata kelola Program MBG sehingga pelaksanaannya menjadi lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran bagi masyarakat yang membutuhkan intervensi gizi.[]
