Astamaops Kapolri Turun Langsung Perkuat Operasi Kemanusiaan di Manggarai, 13.881 Warga Mengungsi

Editor: Syarkawi author photo

 


MANGGARAI, NTT – Polri terus memaksimalkan operasi kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak gempa bumi di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah tersebut diperkuat dengan turun langsungnya Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi (Astamaops Kapolri) Komjen Pol. Dr. Muhammad Fadil Imran, M.Si., ke wilayah terdampak untuk memastikan penanganan berjalan cepat dan kebutuhan masyarakat terpenuhi.

Pada Senin (17/8/2026), Astamaops Kapolri bersama Wakapolda NTT Brigjen Pol. Faizal, S.I.K., M.H., dan Kapolres Manggarai AKBP Levi Defriansyah, S.I.K., S.H., M.Si., meninjau Posko Pengungsi Barang Kolo, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok.

Berdasarkan data yang dilaporkan Kapolres Manggarai pada Senin (17/8/2026) pukul 23.00 WITA, tercatat 163 korban akibat gempa, terdiri atas 27 orang meninggal dunia, 32 orang luka berat, dan 104 orang luka ringan.

Sementara itu, terdapat 45 titik posko pengungsian yang tersebar di delapan kecamatan dengan total 13.881 pengungsi. Data tersebut bersifat dinamis dan terus diperbarui sesuai perkembangan kondisi di lapangan.

Tinjau Pengungsian dan Salurkan Bantuan

Sekitar pukul 12.40 WITA, Astamaops Kapolri tiba di Posko Pengungsi Barang Kolo. Setibanya di lokasi, ia langsung mengecek kondisi para pengungsi sekaligus melihat kebutuhan masyarakat.

Dalam kunjungan tersebut, Polri menyalurkan 2.500 paket bantuan sosial berupa sembako, tenda darurat, serta dua unit Starling untuk mendukung pelayanan kepada masyarakat.

Setiap paket sembako berisi beras 5 kilogram, gula 1 kilogram, mi instan, teh celup, kecap, biskuit, dan minyak goreng.

Bantuan tersebut melengkapi dukungan yang sebelumnya telah didistribusikan ke sejumlah posko, antara lain tenda, terpal, genset, makanan dan minuman, serta bantuan pelayanan kesehatan.

Kapolres Manggarai AKBP Levi Defriansyah mengatakan jajaran Polri berupaya memastikan masyarakat terdampak tidak menghadapi situasi bencana seorang diri.

“Kami pastikan masyarakat tidak sendiri. Kami hadir di posko, membantu evakuasi, menyalurkan sembako, menyiapkan tenda darurat, memberikan pelayanan kesehatan, sekaligus menjaga keamanan. Apa yang menjadi kebutuhan masyarakat di lapangan kami data dan kami koordinasikan agar segera ditindaklanjuti,” ujar Levi.

45 Posko Menampung 13.881 Pengungsi

Berdasarkan data sementara, 45 posko pengungsian tersebar di delapan kecamatan, yakni Langke Rembong, Reok, Reok Barat, Cibal, Cibal Barat, Lelak, Wae Rii, dan Satar Mese.

Dari keseluruhan posko tersebut, tercatat 13.881 warga mengungsi. Jumlah pengungsi terbesar berada di Kecamatan Reok dan Wae Rii.

Kecamatan Reok memiliki tujuh posko dengan 4.488 pengungsi, sedangkan Kecamatan Wae Rii memiliki 17 posko dengan 4.476 pengungsi.

Sejumlah posko tercatat menampung pengungsi dalam jumlah cukup besar, di antaranya Posko Robek sebanyak 1.500 orang, Posko Barang Kolo 1.330 orang, Posko Golo Mendo 1.058 orang, Posko Tengku Romot 602 orang, dan Posko Golo Sita 583 orang.

Penanganan Dilakukan Secara Terpadu

Penanganan bencana gempa di Manggarai dilakukan secara terpadu melalui sinergi lintas instansi. Polri bekerja bersama TNI, Basarnas, BPBD, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, relawan, serta masyarakat.

Masing-masing unsur menjalankan peran sesuai tugasnya. TNI mendukung proses evakuasi, pengamanan, mobilisasi personel dan logistik. Basarnas berfokus pada pencarian, pertolongan dan evakuasi korban.

Sementara itu, BPBD bersama pemerintah daerah mengoordinasikan penanganan kebencanaan, pendataan, pemenuhan kebutuhan pengungsi dan pengelolaan posko. Tenaga kesehatan memberikan pelayanan medis serta memantau kondisi kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia dan penyandang disabilitas.

Polri berperan dalam evakuasi, pelayanan posko, pendistribusian bantuan, pengamanan dan patroli, sekaligus memastikan koordinasi antarlembaga berjalan efektif.

Kapolres Manggarai menegaskan kolaborasi seluruh unsur menjadi kunci agar penanganan bencana dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi.

“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Semua unsur punya peran masing-masing dan harus saling menguatkan. TNI, Basarnas, BPBD, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, relawan dan masyarakat semuanya bergerak untuk satu tujuan, yaitu menyelamatkan dan membantu masyarakat terdampak,” katanya.

Ratusan Personel Dikerahkan

Operasi kemanusiaan di Kabupaten Manggarai melibatkan 100 personel Polri, 31 personel TNI, 68 personel Brimob termasuk personel Resimen II Pelopor Korps Brimob Polri, lima personel Basarnas, serta enam personel BPBD Jawa Timur.

Personel gabungan tersebut dikerahkan untuk melakukan evakuasi korban, pelayanan pengungsi, distribusi bantuan, dukungan kesehatan, pengamanan lokasi serta patroli.

Berdasarkan laporan Kapolres Manggarai hingga 17 Agustus 2026 pukul 23.00 WITA, tercatat 2.398 fasilitas mengalami kerusakan. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan data sebelumnya yang mencatat 2.081 fasilitas rusak.

Kerusakan meliputi fasilitas pemerintahan, pendidikan, fasilitas umum, fasilitas masyarakat dan fasilitas kesehatan.

Tantangan Penanganan di Lapangan

Kapolres Manggarai mengungkapkan, penanganan bencana menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari luasnya wilayah terdampak, banyaknya titik pengungsian, perbedaan kebutuhan setiap posko hingga data yang terus berubah.

“Tantangannya cukup besar. Pengungsi tersebar di 45 titik, kebutuhan setiap posko berbeda, sementara data di lapangan terus bergerak. Karena itu koordinasi harus cepat. Ketika satu posko membutuhkan sesuatu, kita harus segera tahu dan mencari solusinya bersama,” ujarnya.

Di tengah situasi tersebut, personel Polri juga terus melakukan patroli untuk menjaga keamanan dan mencegah potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

“Dalam situasi bencana, masyarakat membutuhkan bantuan sekaligus rasa aman. Jadi kami tidak hanya mengantar bantuan, tetapi juga memastikan kondisi di pengungsian tetap aman. Personel akan terus berada di lapangan,” tegas Levi.

Polri bersama seluruh unsur terkait juga terus memperbarui data korban, pengungsi, kerusakan serta kebutuhan masyarakat. Data tersebut menjadi dasar dalam menentukan prioritas penanganan dan distribusi bantuan berikutnya.

Setelah meninjau Kecamatan Reok, Astamaops Kapolri bersama rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, untuk melihat langsung kondisi masyarakat terdampak dan penanganan bencana di wilayah tersebut.

Kapolres Manggarai memastikan jajarannya akan terus berada di tengah masyarakat selama proses tanggap darurat berlangsung.

“Data berubah, kebutuhan berubah, maka respons juga harus cepat menyesuaikan. Prinsip kami sederhana: siapa yang membutuhkan harus kami bantu, dan di mana masyarakat membutuhkan kehadiran Polri, di situ personel kami berada,” pungkasnya.

Operasi kemanusiaan di Manggarai menjadi wujud sinergi berbagai unsur dalam menghadapi bencana. Polri, TNI, Basarnas, BPBD, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, relawan dan masyarakat terus bergerak bersama dengan satu tujuan, yakni menyelamatkan, membantu serta memastikan masyarakat terdampak tidak menghadapi bencana sendirian.[]

Share:
Komentar

Berita Terkini