JAKARTA – Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) membuka peluang bagi produk hasil karya Warga Binaan untuk menembus pasar nasional melalui kegiatan Business Matching Penguatan Iklim Usaha Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah untuk Mendukung Program Prioritas Presiden RI.
Kegiatan yang berlangsung pada 14–15 Oktober 2026 di Ballroom & Convention Center, Pullman Jakarta Central Park, itu mempertemukan pelaku UMKM binaan kementerian/lembaga dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).
Melalui stan pameran Ditjenpas, berbagai produk unggulan hasil pembinaan kemandirian dari sejumlah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan diperkenalkan kepada calon mitra pengadaan pemerintah.
Produk yang dipamerkan meliputi kerajinan kulit (cukli), tas, batik tulis, produk konveksi, hingga paving block inovatif berbahan Fly Ash and Bottom Ash (FABA), yakni limbah industri yang diolah menjadi material bernilai ekonomi.
Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, menegaskan bahwa partisipasi tersebut merupakan strategi untuk mengubah stigma terhadap Pemasyarakatan sekaligus memperluas akses pasar bagi produk Warga Binaan.
“Kami ingin menunjukkan Pemasyarakatan bukan hanya tempat menjalani pidana, tetapi juga tempat tumbuhnya keterampilan dan kewirausahaan. Setiap produk di sini adalah hasil dari proses pembelajaran, ketekunan, dan semangat perubahan Warga Binaan. Melalui business matching ini, kami ingin produk mereka tidak hanya bangga dipakai, tetapi juga masuk dalam ekosistem pengadaan pemerintah,” ujarnya.
Direktur Pembinaan Narapidana dan Anak Binaan, Masjuno, menambahkan bahwa produk yang dipamerkan telah melalui proses kurasi untuk memastikan kualitas dan daya saingnya.
“Produk Warga Binaan kita sudah sangat kompetitif. Untuk paving block FABA, misalnya, sudah diuji di laboratorium dan kekuatannya tidak kalah dengan produk pabrikan. Batik dan cukli kita juga sudah memiliki merek. Kami berharap melalui pertemuan ini, kementerian/lembaga dapat melihat Pemasyarakatan sebagai mitra penyedia barang/jasa yang sah dan berkualitas,” katanya.
Antusiasme pengunjung terlihat dari konsultasi harga dan penjajakan kerja sama yang berlangsung di stan Ditjenpas. Sejumlah perwakilan kementerian/lembaga disebut tertarik dengan produk Warga Binaan karena memiliki nilai sosial sekaligus menawarkan harga yang kompetitif.
Keikutsertaan dalam business matching ini diharapkan menjadi langkah awal bagi produk hasil pembinaan Pemasyarakatan untuk masuk ke dalam e-Katalog pemerintah. Dengan demikian, produk Warga Binaan berpeluang memperoleh pasar yang lebih luas sekaligus mendukung kebijakan penggunaan produk dalam negeri.
Lebih dari sekadar memperluas pemasaran, upaya ini juga menjadi bagian dari pembinaan kemandirian agar Warga Binaan memiliki keterampilan dan bekal usaha ketika kembali ke masyarakat.
Momentum tersebut sejalan dengan semangat Dua Tahun Gerak Nyata, yakni memperkuat fondasi pembangunan dan meningkatkan kemampuan bangsa menuju Indonesia Emas 2045. (IR)
