JAKARTA – Persoalan sampah di Indonesia kian mengkhawatirkan. Hingga akhir 2025, jumlah sampah nasional tercatat mencapai lebih dari 50 juta ton, dengan lebih dari 60 persen di antaranya belum terkelola secara optimal.
Kondisi ini tidak hanya menimbulkan persoalan sosial dan kesehatan, tetapi juga meningkatkan emisi gas rumah kaca, terutama metana dari tempat pemrosesan akhir (TPA) yang berkontribusi terhadap pemanasan global dan perubahan iklim.
Tantangan pengelolaan sampah tersebut mendorong berbagai pihak untuk mencari solusi inovatif.
Metode konvensional seperti penimbunan (landfill) maupun pembakaran (incineration) masih menyisakan berbagai persoalan, mulai dari residu hingga potensi pelepasan zat beracun yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan.
Menjawab tantangan tersebut, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk melalui divisi pengelolaan limbah ramah lingkungan Nathabumi mengembangkan pemanfaatan teknologi konversi sampah perkotaan menjadi Refuse-Derived Fuel (RDF).
Bahan bakar alternatif ini dinilai lebih rendah karbon dibandingkan batu bara dan dapat dimanfaatkan dalam proses produksi semen.
Hingga akhir 2025, perusahaan telah memanfaatkan sekitar 172.532 ton RDF hasil kolaborasi dengan 21 pemerintah daerah. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 17.000 truk sampah yang berhasil dialihkan dari TPA.
Melalui metode co-processing, RDF dimanfaatkan dalam proses produksi semen dengan temperatur tanur mencapai 1.500 derajat Celsius.
Proses ini memungkinkan limbah dimusnahkan secara tuntas tanpa menyisakan residu, dengan emisi yang tetap terkendali.
Direktur Operasi Solusi Bangun Indonesia, Edi Sarwono, menegaskan bahwa pemanfaatan RDF merupakan bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan yang berbasis pada prinsip ekonomi sirkular.
“Selain membantu menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi masyarakat, pemanfaatan RDF sebagai bahan bakar alternatif juga mendukung transisi Solusi Bangun Indonesia menuju industri hijau. Inisiatif ini turut mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil serta menekan emisi karbon dari proses produksi semen,” ujarnya.
Selain inovasi di sektor industri, perusahaan juga mendorong keterlibatan karyawan dalam pengelolaan sampah melalui program Aksi Sedekah Sampah Bersama (Aksi SESAMA).
Program ini mengajak karyawan memilah serta menyalurkan sampah yang masih dapat didaur ulang ke bank sampah di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Hingga 2026, program tersebut telah mengumpulkan dan menyalurkan sekitar 4,6 ton sampah terpilah.
Upaya edukasi juga diperkuat melalui program Kelola Sampah di Sekitar Kita (Kelas Kita), di mana para karyawan menjadi relawan pengajar yang memberikan edukasi tentang pengelolaan sampah kepada siswa sekolah dasar hingga menengah atas.
“Transformasi pengelolaan sampah harus dimulai dari kebiasaan di lingkungan terdekat, hingga menjadi budaya dan kesadaran kolektif di setiap lapisan masyarakat,” kata Edi.
Melalui inovasi teknologi, kolaborasi multipihak, serta pelibatan karyawan dan generasi muda, Solusi Bangun Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam solusi pengelolaan sampah nasional sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Tentang PT Solusi Bangun Indonesia Tbk
PT Solusi Bangun Indonesia Tbk merupakan perusahaan terbuka yang mayoritas sahamnya (83,52 persen) dimiliki oleh PT Semen Indonesia (Persero) Tbk atau SIG.
Perusahaan menjalankan bisnis terintegrasi meliputi produksi semen, beton siap pakai, agregat, serta layanan pengelolaan limbah.
Solusi Bangun Indonesia mengoperasikan empat pabrik semen di Narogong, Cilacap, Tuban, dan Lhoknga dengan total kapasitas produksi mencapai 14,86 juta ton semen per tahun serta mempekerjakan lebih dari 2.000 karyawan.
Tentang Nathabumi
Nathabumi merupakan divisi pengelolaan limbah ramah lingkungan milik Solusi Bangun Indonesia yang memiliki fasilitas pengolahan limbah terbesar di Asia Tenggara.
Nathabumi menjadi pionir pemanfaatan bahan bakar alternatif berbasis teknologi RDF di Indonesia, serta menyediakan berbagai layanan seperti pengelolaan limbah B3 dan non-B3, secured destruction, laboratorium limbah, pengolahan sampah kota menjadi RDF, pemusnahan bahan perusak ozon, transportasi limbah, hingga konsultasi pengelolaan lingkungan.[]
