SURABAYA – Satuan Tugas (Satgas) Saber Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan melakukan pemantauan langsung terhadap pasokan serta harga pangan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri 2026 di sejumlah wilayah di Jawa Timur, Rabu (4/3/2026).
Kegiatan pemantauan dipimpin oleh Kaposko Satgas Saber Pangan Pusat, Brigjen Pol Zain Dwi Nugroho, bersama tim Satgas Pangan pusat. Pemantauan turut melibatkan Badan Pangan Nasional, jajaran kepolisian, Wadir Reskrimsus Polda Jawa Timur AKBP Henri Noveri, Satgasda Polda Jatim, Polres Kediri, serta dinas perdagangan dan pertanian tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
Sejumlah lokasi yang menjadi sasaran pemantauan antara lain Pasar Wonokromo di Kota Surabaya, lahan pertanian cabai rawit merah di Kecamatan Kepung, pengepul cabai di Kecamatan Puncu, peternakan ayam petelur PT Mitra Jaya Fermindo, Pasar Induk Pare Kabupaten Kediri, serta Grosir Superindo Jemursari Surabaya.
Hasil pemantauan di Pasar Wonokromo menunjukkan pasokan pangan relatif aman dan distribusi berjalan lancar. Sejumlah komoditas masih berada pada kisaran Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Acuan Pemerintah (HAP), di antaranya beras premium dan medium, cabai merah keriting, bawang merah, bawang putih, minyak goreng Minyakita, serta daging ayam ras.
Harga komoditas yang tercatat antara lain beras premium sekitar Rp15.000 per kilogram, beras medium Rp13.000–Rp13.500 per kilogram, bawang merah Rp40.000 per kilogram, bawang putih Rp34.000 per kilogram, cabai merah keriting Rp50.000 per kilogram, cabai merah besar Rp25.000 per kilogram, dan daging ayam ras Rp40.000 per kilogram.
Sementara itu, harga telur ayam ras berada di kisaran Rp31.000–Rp32.000 per kilogram atau sedikit di atas harga acuan pemerintah. Minyak goreng Minyakita dari Bulog dijual sekitar Rp15.700 per kilogram dan mulai tersedia lebih luas di pasar.
“Secara umum pasokan dan distribusi pangan di Surabaya dan Kabupaten Kediri dalam kondisi aman menjelang Idul Fitri. Sebagian besar harga komoditas masih berada pada kisaran HAP dan HET,” ujar Brigjen Zain Dwi Nugroho.
Meski demikian, harga cabai rawit merah masih relatif tinggi. Di tingkat konsumen, harga cabai rawit merah berada pada kisaran Rp90.000–Rp100.000 per kilogram. Kenaikan harga ini dipengaruhi faktor cuaca yang berdampak pada produksi pertanian.
Menurut Zain, tingginya curah hujan menyebabkan penurunan produksi akibat serangan hama dan penyakit tanaman seperti jamur fusarium, patek, serta hama lalat buah.
Pemantauan juga dilakukan di lahan cabai rawit merah milik petani Ahmad Asrori di Desa Kepung, Kabupaten Kediri. Petani tersebut mengelola lahan seluas sekitar 2.800 meter persegi. Di Kabupaten Kediri, total lahan cabai rawit merah mencapai sekitar 5.000 hektare, dengan 1.400 hektare berada di Kecamatan Kepung.
Saat ini, produksi cabai hanya mencapai sekitar 25–50 persen dari kondisi normal. Panen dilakukan setiap lima hingga tujuh hari dengan hasil sekitar 30–50 kilogram per panen. Cabai dijual langsung ke pasar induk dengan harga sekitar Rp75.000 per kilogram.
Di tingkat pengepul di Desa Asmorobangun, Kecamatan Puncu, harga pembelian cabai rawit merah dari petani berkisar Rp81.000–Rp82.000 per kilogram, kemudian dijual ke Pasar Induk Pare sekitar Rp83.000–Rp84.000 per kilogram. Namun, pasokan yang diterima pengepul saat ini masih di bawah normal, yakni kurang dari satu ton per hari, jauh dibanding kondisi normal yang bisa mencapai lima ton per hari.
Pada sektor peternakan, Satgas juga memantau peternakan ayam petelur PT Mitra Jaya Fermindo. Harga pokok produksi telur dipengaruhi biaya pakan yang mencapai sekitar Rp7.000 per kilogram dengan rasio konsumsi pakan 3,5, sehingga harga pokok produksi telur sekitar Rp24.500 per kilogram. Peternak menjual telur di tingkat kandang sekitar Rp26.500 per kilogram.
Satgas Pangan merekomendasikan penguatan infrastruktur pertanian, seperti pembangunan sumur bor dan sistem irigasi untuk mendukung produksi cabai agar dapat panen dua kali dalam setahun.
“Kami juga mendorong koordinasi dengan pelaku usaha pengguna cabai sebagai bahan baku agar harga di tingkat produsen dan pengepul tetap sesuai harga acuan pemerintah,” ujar Zain.
Selain itu, pemerintah juga didorong memperkuat fasilitasi distribusi pangan untuk menekan biaya transportasi dari daerah sentra produksi ke daerah defisit pangan.
Secara umum, Satgas menilai pasokan dan distribusi pangan di Jawa Timur menjelang Idul Fitri 2026 masih relatif aman, meski terdapat fluktuasi harga pada beberapa komoditas akibat faktor cuaca dan produksi pertanian. (*)
