![]() |
| Warga Binaan Pemasyarakatan Lapas Kelas IIB Tobelo memasang ajir bambu dan membersihkan kebun dalam program pembinaan kemandirian bidang pertanian, Selasa (28/4/2026). |
Tobelo – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tobelo terus memperkuat pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) melalui kegiatan produktif di bidang pertanian. Pada Selasa (28/4/2026), suasana kebun Lapas tampak lebih aktif sejak pagi hari.
Kegiatan diawali dengan apel pagi di Pos Komandan Jaga sekitar pukul 09.00 WIT. Setelah itu, sebanyak tujuh WBP yang tergabung dalam program pembinaan kemandirian langsung menuju area kebun untuk melaksanakan pekerjaan pertanian.
Di bawah pengawasan petugas, para WBP memasang ajir bambu pada lubang tanam yang telah dilapisi mulsa plastik.
Pemasangan dilakukan dengan pola silang, teknik yang umum digunakan untuk memperkuat penyangga tanaman agar mampu menopang beban buah dan tahan terhadap terpaan angin. Selain meningkatkan ketelitian, kegiatan ini juga mengenalkan standar teknis pertanian yang baik.
Tak hanya itu, para WBP juga membersihkan area kebun dari gulma dan tanaman pengganggu guna menjaga kesuburan tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal. Kebun yang bersih diharapkan mampu meningkatkan hasil panen ke depan.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib dan aman dengan pengawasan Staf Giatja serta CPNS. Kehadiran petugas tidak hanya sebagai pengawas, tetapi juga pembimbing yang memberikan arahan teknis selama kegiatan berlangsung.
Hasilnya, bedengan tanaman kini lebih tertata dengan pemasangan ajir sesuai standar, serta kondisi kebun menjadi lebih rapi dan terawat.
Selain berdampak pada kualitas tanaman, kegiatan ini juga berkontribusi dalam membangun disiplin, keterampilan, dan tanggung jawab para WBP.
Kepala Lapas Kelas IIB Tobelo, Donni Isa Dermawan, menegaskan bahwa program pembinaan kemandirian akan terus ditingkatkan sebagai bagian dari proses reintegrasi sosial. Ia berharap keterampilan yang diperoleh WBP dapat menjadi bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih produktif setelah bebas.
Program ini menjadi bukti bahwa masa pembinaan di dalam Lapas tidak hanya berorientasi pada pembinaan perilaku, tetapi juga membuka peluang bagi WBP untuk belajar, berkembang, dan mandiri.[]
