Sony Sanjaya Ungkap Perjuangan Awal Program Makan Bergizi Gratis hingga Jadi Prioritas Nasional

Editor: Syarkawi author photo

 

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Sony Sonjaya, mengungkap kisah perintisan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menjadi prioritas nasional. Foto: Dok. BGN

JAKARTA – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Sony Sanjaya, mengungkap kisah di balik perintisan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menjadi salah satu prioritas nasional.

Sony menjelaskan, program tersebut bermula dari kondisi yang sangat terbatas. Pada Oktober 2024, Badan Gizi Nasional hanya diisi oleh dua orang, yakni Kepala BGN dan wakilnya saat itu.

Meski dengan sumber daya yang minim, semangat untuk mewujudkan program prioritas Presiden Prabowo Subianto tetap berjalan. 

Sekitar 15 relawan dilibatkan untuk merancang konsep awal program yang kala itu masih dikenal sebagai program makan siang gratis.

“Setiap hari kami berdiskusi membahas bentuk kegiatan MBG serta pihak-pihak yang dapat dilibatkan untuk mendukung program ini,” ujar Sony dalam keterangan tertulis, Senin (4/5/2026).

Para relawan kemudian bergerak menjangkau jaringan masing-masing, mulai dari pengusaha, kolega, hingga keluarga yang dinilai mampu memberikan dukungan, baik dalam pembangunan dapur, pengadaan peralatan, maupun bantuan pendanaan yang mencapai sekitar Rp900 juta per bulan.

Pendekatan dilakukan secara personal, melalui komunikasi langsung maupun pertemuan tatap muka. Pihak yang bersedia mendukung disebut sebagai mitra, bukan sekadar vendor.

“Banyak yang menanyakan Surat Perintah Kerja (SPK), tetapi saat itu kami belum bisa memastikan bentuk kerja sama. Kami mencari pihak yang yakin program ini akan berjalan dan bersedia mendukung sejak awal,” jelasnya.

Selain membangun kemitraan, Sony juga menekankan pentingnya sistem pendataan yang akurat. Ia menilai, keberhasilan program harus didukung data yang terukur, mulai dari jumlah dapur, penerima manfaat, hingga distribusi makanan.

Pendataan awal dilakukan dengan melibatkan aparat teritorial, kemudian dipadukan dengan berbagai sumber data lain seperti Dapodik, data Kementerian Agama, serta BKKBN.

Berbekal pengalamannya di kepolisian, Sony turut merancang sistem digital untuk mendukung operasional MBG. 

Sistem awal tersebut diberi nama PPMBG, yang dirancang untuk mengelola data dari 100 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Pengembangan sistem terus berlanjut saat uji coba dilakukan di sejumlah lokasi, dengan penerapan manajemen armada dan pelaporan operasional berbasis digital.

“Sejak awal saya meyakini setiap pekerjaan harus didukung sistem dan data. Dengan sistem yang baik, pengelolaan program berskala besar akan jauh lebih mudah,” katanya.

Ia juga menyebut salah satu lokasi percontohan dapur MBG berada di Bojong Koneng, yang menjadi bagian dari pengembangan awal program tersebut.

Dari berbagai keterbatasan di tahap awal, program MBG kini telah berkembang menjadi sistem yang lebih terstruktur dan menjadi fondasi penting dalam upaya peningkatan gizi masyarakat secara nasional.[]

Share:
Komentar

Berita Terkini