KOTA JANTHO – Akademisi Dr. Dicky Wirianto memberikan apresiasi terhadap komitmen Bupati Aceh Besar, H. Muharram Idris (Syech Muharram), dalam merealisasikan program integrasi kurikulum kajian kitab kuning dari dayah ke dalam sistem pendidikan formal di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Aceh Besar.
Dalam keterangan resminya, Senin (8/6/2026), Dr. Dicky menilai kebijakan tersebut sebagai langkah strategis yang tidak hanya memperkuat kualitas pendidikan, tetapi juga memperkokoh identitas keislaman masyarakat Aceh Besar melalui jalur pendidikan formal.
“Sebagai akademisi, saya menyambut positif komitmen Bupati Syech Muharram. Ini bukan sekadar wacana, melainkan realisasi nyata dari janji politik yang berorientasi pada penguatan nilai-nilai Islam melalui sektor pendidikan,” ujar Dr. Dicky.
Menurutnya, program yang memasukkan kajian kitab kuning ke dalam kurikulum muatan lokal merupakan langkah tepat untuk menciptakan keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan umum dan pendidikan agama sejak usia dini.
Dr. Dicky juga menyoroti mekanisme rekrutmen tenaga pengajar yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar. Ia menilai proses seleksi yang ketat terhadap alumni dayah di Aceh menjadi faktor penting dalam menjamin kualitas pembelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik.
“Seleksi yang dilakukan secara ketat memastikan para pengajar tidak hanya memahami isi kitab secara tekstual, tetapi juga mampu menjelaskan secara kontekstual. Karena mereka merupakan produk langsung dari sistem pendidikan dayah yang memiliki kompetensi keilmuan yang teruji,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa kajian kitab kuning direncanakan menjadi program prioritas dengan alokasi waktu dua jam pelajaran setiap hari pada awal kegiatan belajar mengajar.
Menurutnya, kebijakan tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam memastikan materi keagamaan dapat dipahami secara optimal oleh siswa.
“Dengan alokasi waktu dua jam setiap pagi, saat kondisi siswa masih segar dan fokus, diharapkan pemahaman terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam kitab kuning dapat terserap lebih baik. Ini menunjukkan komitmen yang nyata, bukan sekadar simbolis,” katanya.
Dr. Dicky juga menilai program tersebut memiliki potensi besar untuk menjadi model pengembangan pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman yang dapat diterapkan di daerah lain.
“Jika berjalan dengan baik, Aceh Besar dapat menjadi percontohan bagi kabupaten dan kota lain dalam mengintegrasikan pendidikan keagamaan tradisional dengan sistem pendidikan formal modern. Ini akan memperkuat fondasi keagamaan generasi muda Aceh dalam menjalani kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai Islam,” ujarnya.
Ia berharap program tersebut mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk orang tua siswa, tokoh masyarakat, akademisi, dan instansi terkait, sehingga implementasinya dapat berjalan optimal pada tahun ajaran mendatang.
Menurutnya, sinergi seluruh elemen masyarakat menjadi kunci keberhasilan program dalam mencetak generasi muda yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, moral, dan spiritual.
“Program ini merupakan investasi jangka panjang dalam membangun karakter generasi penerus. Karena itu, dukungan semua pihak sangat dibutuhkan agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai secara maksimal,” pungkasnya.[]
