ACEH TAMIANG – Pemerintah tengah mengupayakan peningkatan alokasi bantuan pembangunan Hunian Tetap (Huntap) in situ bagi korban bencana hidrometeorologi di Aceh dari Rp60 juta menjadi hingga Rp80 juta per unit.
Bantuan tersebut diperuntukkan bagi rumah dengan kategori rusak berat sebagai bagian dari program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Upaya peningkatan nilai bantuan tersebut dilakukan setelah hasil tinjauan lapangan menunjukkan bahwa alokasi anggaran sebesar Rp60 juta per unit dinilai belum memadai untuk memenuhi kebutuhan pembangunan rumah yang layak.
Tingginya harga material bangunan serta biaya distribusi logistik ke sejumlah wilayah menjadi faktor utama yang mendorong perlunya penyesuaian bantuan.
Hal itu disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Dr. Suharyanto, usai meninjau progres pembangunan Huntap in situ di Desa Sriwijaya, Kecamatan Kota Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang, serta di Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur, Senin (22/6/2026).
Menurut Suharyanto, peningkatan nilai bantuan diharapkan dapat menghasilkan kualitas bangunan yang lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak bencana.
“Besaran bantuan Rp60 juta per unit saat ini cukup minim untuk memenuhi kebutuhan pembangunan rumah, terutama di wilayah Aceh yang memiliki tantangan tersendiri dalam pengadaan dan distribusi material bangunan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemerintah pusat melalui Rapat Tingkat Menteri yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) telah menyepakati upaya peningkatan bantuan tersebut. Saat ini, usulan kenaikan masih dalam tahap pembahasan lebih lanjut.
“Apabila nantinya disetujui, baik menjadi Rp65 juta, Rp70 juta, maupun Rp80 juta per unit, tentu kualitas rumah yang dibangun akan semakin baik dan lebih memenuhi kebutuhan masyarakat,” kata Suharyanto.
Program Huntap in situ merupakan salah satu bentuk dukungan pemerintah melalui BNPB bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat akibat bencana.
Dalam skema ini, rumah dibangun kembali di atas lahan milik warga dengan tipe bangunan seluas 36 meter persegi.
Setiap unit hunian dilengkapi dua kamar tidur, satu kamar mandi, serta ruang keluarga atau ruang tamu.
Bangunan menggunakan konstruksi pondasi permanen, dinding bata plester, rangka baja ringan, dan atap spandek guna memastikan keamanan dan kenyamanan penghuni.
Saat ini proses pembangunan huntap masih terus berlangsung sebagai bagian dari tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di wilayah Aceh.
Suharyanto mengungkapkan, BNPB telah menerima usulan pembangunan sekitar 15.000 unit Huntap in situ dari tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Dari jumlah tersebut, sekitar 800 hingga 900 unit rumah telah dibangun secara serentak dan hampir 400 unit di antaranya telah selesai.
Menurutnya, pembangunan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Rumah yang telah rampung langsung diserahkan kepada warga penerima manfaat agar dapat segera ditempati.
“Nanti kita bisa melihat dari Aceh Tamiang, Aceh Timur sampai ke Aceh Utara beberapa rumah yang sudah jadi dan langsung diserahkan kepada masyarakat. Semuanya memang tidak bisa selesai sekaligus, tetapi proses pembangunan terus berjalan,” ujarnya.
Selain meninjau progres pembangunan hunian tetap, Kepala BNPB juga menyerahkan bantuan sembako kepada warga terdampak di Kabupaten Aceh Tamiang dan Kabupaten Aceh Timur guna membantu pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Salah seorang penerima manfaat, Nurbayti (64), warga Desa Sriwijaya, Kecamatan Kota Kualasimpang, mengaku bersyukur atas bantuan pemerintah yang telah membangun kembali rumahnya yang rusak berat akibat banjir.
Setelah hampir tiga bulan tinggal di hunian sementara (huntara), ia berencana segera menempati rumah barunya.
Hal senada disampaikan Muhammad Fuad (35), warga Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur. Ia mengapresiasi percepatan pembangunan hunian tetap yang diperuntukkan bagi dirinya dan keluarga.
“Alhamdulillah, rumah ini lebih bagus dan lebih nyaman. Setelah bencana saya sempat menumpang di rumah mertua, kemudian tinggal di huntara. Jika pembangunan sudah selesai, kami akan segera pindah ke huntap ini,” ujarnya.
Fuad yang berprofesi sebagai teknisi elektronik tersebut mengaku sangat terbantu dengan dukungan pemerintah melalui BNPB dalam proses pemulihan pascabencana.
Menurutnya, rumah yang saat ini hampir selesai dibangun bahkan memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan rumah sebelumnya yang rusak akibat bencana.
Kehadiran hunian tetap tersebut diharapkan menjadi awal baru bagi warga terdampak untuk kembali menjalani kehidupan secara normal, aman, dan nyaman setelah melewati masa-masa sulit akibat bencana. (*)
