Dr. Akmal: Arus Konten di Media Sosial Jadi Tantangan, Pencegahan LGBT Perlu Diperkuat Lewat Pendidikan dan Literasi Digital

Editor: Syarkawi author photo

 

Dr. Akmal
Alumni Program Doktor Ilmu Manajemen (DIM) XIV Universitas Syiah Kuala (USK)

Banda Aceh – Pernyataan Gubernur Aceh yang dimuat salah satu media daring mengenai persoalan LGBT sebagai isu yang perlu dicegah mendapat perhatian dari berbagai kalangan. 

Menanggapi hal tersebut, Dr. Akmal, Alumni Program Doktor Ilmu Manajemen (DIM) XIV Universitas Syiah Kuala (USK), menilai bahwa tantangan utama saat ini adalah derasnya arus informasi di media sosial yang berpotensi memengaruhi pola pikir dan perilaku generasi muda apabila tidak diimbangi dengan literasi digital serta pendidikan karakter yang memadai.

Menurut Dr. Akmal, media sosial telah menjadi ruang komunikasi tanpa batas yang memungkinkan berbagai informasi, ide, gaya hidup, dan pandangan dari berbagai belahan dunia tersebar dengan sangat cepat. 

Kondisi tersebut menuntut generasi muda memiliki kemampuan berpikir kritis agar mampu menyaring informasi yang diterima dan tidak mudah terpengaruh oleh konten yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, budaya, maupun norma sosial yang berlaku di Aceh.

"Di era digital, arus informasi tidak lagi mengenal batas wilayah. Karena itu, upaya pencegahan tidak cukup hanya melalui regulasi, tetapi juga harus diperkuat dengan pendidikan karakter, literasi digital, serta penguatan peran keluarga dan lingkungan pendidikan," ujar Dr. Akmal, Sabtu (25/7/2026).

Ia menegaskan bahwa pendidikan menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter generasi muda. Sekolah, keluarga, perguruan tinggi, tokoh agama, dan tokoh masyarakat perlu bersinergi untuk menanamkan nilai-nilai moral, etika, dan budaya lokal agar generasi muda memiliki ketahanan dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif dari perkembangan teknologi informasi.

Selain itu, Dr. Akmal menilai literasi digital perlu terus ditingkatkan agar masyarakat mampu menggunakan media sosial secara bijak, memahami risiko penyebaran informasi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut, serta mampu membedakan antara informasi yang bermanfaat dan yang berpotensi memberikan dampak negatif.

Menurutnya, pendekatan edukatif dan preventif merupakan langkah yang lebih efektif dalam membangun kesadaran masyarakat dibandingkan hanya mengandalkan penindakan. 

Melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat, upaya menjaga generasi muda dari pengaruh negatif di ruang digital dapat dilakukan secara lebih komprehensif.

Dr. Akmal berharap seluruh elemen masyarakat dapat bersama-sama memperkuat pendidikan karakter dan literasi digital sebagai bagian dari upaya membangun generasi Aceh yang berakhlak, cerdas, dan mampu menghadapi tantangan perkembangan teknologi di era globalisasi.[]

Share:
Komentar

Berita Terkini