ICMI Muda Sumut Gelar Dialog Sejarah, Ungkap Jejak Peradaban Aceh dan Deli dalam Identitas Melayu Nusantara

Editor: Syarkawi author photo

 


Medan – Majelis Pengurus Wilayah (MPW) ICMI Muda Sumatera Utara menggelar Dialog Sejarah bertajuk “Menelusuri Jejak Peradaban: Hubungan Sejarah Kesultanan Aceh dan Kesultanan Deli dalam Pembentukan Identitas Melayu Nusantara.” Kegiatan ini menjadi ruang diskusi ilmiah untuk mengkaji keterkaitan sejarah, budaya, dan peradaban antara dua kesultanan besar di Sumatra.

Dialog menghadirkan dua narasumber, yakni Pakar Hukum Adat dan akademisi senior Universitas Syiah Kuala, Dr. M. Adli Abdullah, S.H., M.CL., Ph.D., serta Tengku Moharsyah Nazmi bergelar Tengku Duta Narawangsa.

Kegiatan tersebut juga dihadiri Tengku Osman Amal Ganda Wahid Al Haj, bergelar Tengku Panglima Besar Deli, sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian sejarah dan penguatan identitas Melayu melalui forum-forum akademik.

Dalam pemaparannya, Dr. M. Adli Abdullah menjelaskan bahwa hubungan Kesultanan Aceh dan Kesultanan Deli merupakan bagian dari jaringan besar Peradaban Melayu Islam yang menghubungkan Nusantara dengan dunia Islam.

Menurutnya, Kesultanan Aceh pada masa lalu tidak hanya berperan sebagai kerajaan, tetapi juga menjadi pusat pembentukan standar kemelayuan (Malayness) yang memadukan nilai-nilai Islam, adat istiadat, sistem pemerintahan, jaringan ulama, diplomasi, hingga perdagangan.

Ia juga menyoroti hubungan erat Kesultanan Aceh dengan Kesultanan Utsmaniyah yang menunjukkan posisi strategis Aceh dalam geopolitik dunia Islam. Pengaruh tersebut, lanjutnya, turut membentuk sistem pemerintahan, hukum, dan kebudayaan yang kemudian berkembang di Kesultanan Deli.

Sementara itu, Tengku Moharsyah Nazmi memaparkan sejarah berdirinya Kesultanan Deli yang berawal dari penugasan Sri Paduka Tuanku Gocah Pahlawan oleh Sultan Iskandar Muda dari Kesultanan Aceh untuk memimpin wilayah pesisir timur Sumatra.

Dari hubungan historis tersebut, Kesultanan Deli berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan, penyebaran agama Islam, dan kebudayaan Melayu yang berpengaruh di Sumatra Timur.

Diskusi juga mengulas sejumlah warisan bersejarah Kesultanan Deli yang masih berdiri hingga kini, seperti Istana Maimun, Masjid Raya Al-Mashun, Meriam Puntung, dan Taman Sri Deli, yang menjadi simbol kejayaan peradaban Melayu.

Kehadiran Tengku Osman Amal Ganda Wahid Al Haj dinilai semakin memperkuat makna dialog tersebut. Partisipasinya mencerminkan dukungan Kesultanan Deli terhadap pelestarian sejarah, adat, dan budaya Melayu, sekaligus mempererat silaturahmi antara kalangan akademisi, tokoh adat, dan generasi muda.

Melalui kegiatan ini, MPW ICMI Muda Sumatera Utara berharap generasi muda semakin memahami bahwa hubungan sejarah antara Aceh dan Deli bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan fondasi penting dalam membangun identitas Melayu Nusantara yang berlandaskan nilai-nilai Islam, ilmu pengetahuan, budaya, keterbukaan, dan semangat kemaritiman.

Dialog tersebut ditutup dengan pesan bahwa mempelajari sejarah hubungan Aceh dan Deli merupakan bagian dari upaya merawat jati diri bangsa sekaligus membangun masa depan peradaban Melayu Nusantara yang berakar pada ilmu pengetahuan, nilai-nilai Islam, kebudayaan, dan persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).[]

Share:
Komentar

Berita Terkini