81 Tahun Merdeka: AI Boleh Berkembang, Jati Diri Bangsa Harus Lebih Kuat

Editor: Syarkawi author photo

 


SERANG  — Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa banyak kemudahan dalam kehidupan. Namun, di balik manfaat tersebut, ketergantungan berlebihan terhadap teknologi dapat menjadi tantangan serius bagi generasi muda, terutama jika membuat kemampuan berpikir kritis, kemandirian, integritas, dan jati diri bangsa semakin terpinggirkan.

Pesan tersebut disampaikan Caturida Meiwanto Doktoralina, Ph.D., M.Ak., yang akrab disapa Pak Doktor, saat memberikan pembekalan kepada mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten, Rabu (12/8/2026).

Tenaga Profesional Lemhannas RI yang juga dosen Universitas Dian Nusantara (Undira), Jakarta, tersebut mengangkat tema “Kearifan Lokal dan Pemahaman Hak dan Kewajiban dalam Bela Negara”. Dalam pembekalannya, ia menyoroti perkembangan AI serta pentingnya menjaga jati diri bangsa di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat.

Menurut Caturida, kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan karakter, integritas, dan nilai-nilai kebangsaan. Generasi muda perlu menguasai AI, tetapi tidak boleh kehilangan kemampuan berpikir mandiri maupun nilai yang menjadi identitas bangsa.

“Kita harus menguasai AI dan perkembangan teknologi. Namun, jangan sampai kemajuan membuat generasi muda kehilangan jati diri, nilai kebangsaan, dan tanggung jawab sebagai warga negara,” ujar Caturida.

Ia menilai, kemerdekaan pada era digital tidak hanya dimaknai sebagai kebebasan mengakses dan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan generasi muda untuk berpikir secara mandiri, kritis terhadap informasi, serta memanfaatkan teknologi untuk kepentingan masyarakat dan bangsa.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan AI, Caturida menempatkan kearifan lokal sebagai salah satu fondasi penting untuk menjaga identitas kebangsaan sekaligus menjadi benteng terhadap dampak negatif teknologi.

Menurutnya, kearifan lokal bukan sekadar tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di dalamnya terdapat nilai kehidupan yang membentuk identitas, memperkuat gotong royong, solidaritas, etika, musyawarah, serta kepedulian terhadap sesama.

“Dalam konteks Banten, saya menyoroti religiusitas, gotong royong, keberanian, musyawarah, solidaritas, serta penghormatan terhadap budaya dan sejarah sebagai perisai sekaligus senjata. Ketokohan Sultan Ageng Tirtayasa menjadi warisan bagi masyarakat Banten dalam membangun nilai keberanian, kemandirian, kepemimpinan, perjuangan, dan keberpihakan terhadap kepentingan bangsa,” katanya.

Caturida menegaskan, menjadi modern tidak berarti meninggalkan akar budaya dan nilai-nilai yang telah membentuk identitas bangsa. Sebaliknya, kearifan lokal harus terus dihidupkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Menjadi modern tidak berarti menggergaji pohon dan mencabut akarnya. Nilai-nilai kearifan lokal justru harus dihidupkan melalui berbagai cara, termasuk menanam kembali bibit dan menjaganya agar pohon itu tumbuh besar. Bibit yang ditanam bukan hanya untuk penanamnya, tetapi juga untuk keturunannya sebagai warisan,” ujarnya.

Bela Negara di Era AI

Kepada para mahasiswa, Caturida juga mengingatkan bahwa konsep bela negara harus mampu mengikuti perkembangan zaman. 

Bela negara, kata dia, merupakan bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara melalui profesi serta bidang masing-masing dan menjadi tanggung jawab setiap warga negara Indonesia.

“Bagi mahasiswa, bela negara harus diwujudkan dengan menyesuaikan diri terhadap perkembangan zaman. Kesungguhan belajar, lulus tepat waktu, serta menjunjung tinggi kejujuran dan integritas merupakan bagian dari bela negara. Nilai-nilai tersebut kemudian harus diamalkan dalam pengabdian kepada masyarakat,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya integritas mahasiswa dalam menghadapi derasnya arus informasi digital. 

Mahasiswa harus menjadi bagian dari upaya melawan hoaks dan disinformasi, menolak penyebaran informasi yang menyesatkan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak negatif teknologi seperti deepfake.

“Kehancuran sebuah nilai sangat mungkin terjadi ketika generasi muda, termasuk mahasiswa, tidak mampu melawan deepfake. Bela negara hanya menjadi mimpi jika kesadaran untuk melawan deepfake lemah karena mahasiswa tidak memiliki jati diri dan integritas,” tegasnya.

Caturida juga meminta perguruan tinggi mengambil posisi strategis sebagai agent of change atau agen perubahan. 

Menurutnya, kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pendidikan tinggi juga harus mampu membentuk manusia yang memiliki karakter kebangsaan, integritas, adaptif terhadap perubahan, serta memiliki semangat untuk berkontribusi bagi bangsa dan negara.

Presiden Mahasiswa Untirta, Muhamad Ridam, menyambut baik pesan tersebut. Ia menilai mahasiswa harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan AI tanpa kehilangan jati diri.

Menurutnya, kesungguhan belajar, kejujuran akademik, sikap kritis terhadap hoaks, serta kepedulian terhadap masyarakat merupakan bentuk nyata bela negara di lingkungan kampus.

Sementara itu, Al Kautsar Azhari yang mewakili mahasiswa menilai nasionalisme harus diwujudkan melalui tindakan nyata.

“Menguasai AI tidak berarti menyerahkan kemampuan berpikir kepada mesin. Ilmu dan teknologi harus digunakan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan Caturida di Banten juga mendapat sambutan dari jajaran Kodim 0602/Serang di bawah Korem 064/Maulana Yusuf. 

Kedatangan Tenaga Profesional Lemhannas RI tersebut disambut Komandan Kodim 0602/Serang Kolonel Arm. Oke Kisrtiyanto, S.A.P., bersama Kapten Inf Supandi selaku Komandan Koramil 0602-09/Cikeusal.

Sinergi antara Lemhannas RI, perguruan tinggi, mahasiswa, dan komando kewilayahan tersebut memperkuat pesan menjelang peringatan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia: AI boleh berkembang dan memberi kemudahan, tetapi jati diri bangsa, integritas, dan kemampuan berpikir manusia harus tetap menjadi yang utama.[]

Share:
Komentar

Berita Terkini