Tgk Agam Desak Dugaan Kekerasan di Poltekpel Malahayati Diusut, Ungkap Anak Pernah Dipukul Senior

Editor: Syarkawi author photo

 

Tgk Agam saat menjenguk keluarga duka di RSUDZA, Ahad (27/9/2026) malam. Foto: Mitraberita

BANDA ACEH — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dari Fraksi Partai Aceh, Nazaruddin, S.I.Kom alias Tgk Agam, mendesak aparat penegak hukum mengusut secara menyeluruh dugaan kekerasan yang diduga terjadi di Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Aceh.

Desakan itu disampaikan menyusul meninggalnya Muhammad Rasya Fadilah (18), mahasiswa baru Poltekpel Malahayati asal Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. 

Kematian Rasya kini menjadi perhatian keluarga dan publik karena terdapat dugaan kekerasan yang masih perlu dibuktikan melalui proses penyelidikan.

Nazaruddin menegaskan, anak-anak yang dikirim untuk menempuh pendidikan seharusnya mendapatkan pembinaan dan perlindungan, bukan perlakuan kekerasan.

“Anak kita diantar ke situ untuk dididik, bukan untuk dipukul,” tegas Nazaruddin saat menjenguk keluarga duka di ruang jenazah RSUD Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Minggu (27/9/2026) malam.

Nazaruddin yang juga mantan Wali Kota Sabang itu mengungkapkan, persoalan serupa sebelumnya disebut pernah dialami anaknya yang juga menempuh pendidikan di tempat tersebut.

Menurut Nazaruddin, sekitar lima hari sebelum meninggalnya Muhammad Rasya Fadilah, anaknya menghubunginya melalui telepon dalam kondisi tertekan. Saat itu, sang anak mengaku mendapat perlakuan kekerasan dari senior.

“Anak saya telepon, kemudian dia tidak sanggup lagi. Dia bilang, ‘Ma, Yah, nggak sanggup lagi. Saya dipukul,’” tutur Nazaruddin dikutip MITRABERITA.NET, Minggu malam (27/9/2026).

Ia mengatakan, anaknya mengaku dipukul sekitar 16 kali, antara lain pada bagian rusuk dan wajah.

Mendapat informasi tersebut, Nazaruddin mengaku langsung menghubungi sejumlah guru yang dikenalnya di tempat pendidikan anaknya. Ia menyampaikan laporan tersebut dan meminta agar tindakan kekerasan tidak kembali terjadi.

“Saya bilang anak saya dipukul. Yang memukulnya nama ‘A’ (inisial). Saya bilang, tolong dibantu, jangan ada kekerasan lagi,” katanya.

Menurut Nazaruddin, pihak guru saat itu menyampaikan akan melakukan pemantauan dan memberikan sanksi terhadap senior yang disebut dalam laporan tersebut.

Namun, ia menyesalkan apabila dugaan kekerasan kembali terjadi. Kondisi tersebut membuatnya meminta agar persoalan tidak hanya diselesaikan secara internal, tetapi juga diproses sesuai ketentuan hukum apabila ditemukan unsur pidana.

Ketua Komisi VI DPRA itu menilai, pengalaman yang dialami anaknya menjadi salah satu alasan dirinya meminta aparat penegak hukum memberikan perhatian serius terhadap dugaan kekerasan di lingkungan pendidikan tersebut.

“Saya minta kepada aparat hukum, anak kita diantar ke situ untuk dididik, bukan untuk dipukul,” ujarnya.

Nazaruddin meminta penyelidikan dilakukan secara menyeluruh untuk mengungkap fakta sebenarnya, termasuk memastikan ada atau tidaknya keterkaitan antara dugaan kekerasan dengan meninggalnya Muhammad Rasya Fadilah.

“Ya, sesuai aturan, sesuai ketentuan, diproses secara hukum,” kata politikus Partai Aceh tersebut.

Ia menegaskan, pengusutan penting dilakukan agar persoalan yang dialami anaknya maupun dugaan kekerasan yang berkaitan dengan Rasya mendapatkan kejelasan berdasarkan fakta dan hukum.

“Harus diusut, supaya jangan terulang lagi ke yang lainnya,” pungkasnya.

Hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab meninggalnya Muhammad Rasya Fadilah maupun tudingan dugaan pemukulan terhadap anak Nazaruddin.

Jenazah Muhammad Rasya Fadilah sebelumnya berada di ruang jenazah RSUDZA Banda Aceh untuk menjalani pemeriksaan medis. Setelah itu, jenazah diberangkatkan ke kampung halamannya untuk dimakamkan.

Kematian mahasiswa baru Poltekpel Malahayati tersebut meninggalkan duka mendalam bagi keluarga sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai penyebab dan rangkaian peristiwa sebelum korban meninggal dunia.[]

Share:
Komentar

Berita Terkini