Peringati Hari Santri Nasional, Dek Gam Bantu Bangun Kembali Dua Balee Pengajian Terdampak Banjir di Aceh

Editor: Syarkawi author photo

 

H. Nazaruddin Dek Gam, Ketua DPW PAN Aceh yang juga menjabat Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI membantu pembangunan kembali dua balee pengajian terdampak banjir di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional 2026. Foto: (Istimewa)

BANDA ACEH – Memperingati Hari Santri Nasional ke-11 pada 22 Oktober 2026, H. Nazaruddin Dek Gam menunjukkan kepeduliannya terhadap pendidikan Islam dengan membantu pembangunan kembali dua balee pengajian yang terdampak banjir di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, Aceh.

Dua fasilitas pendidikan agama tersebut masing-masing berada di Gampong Blang Pandak, Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, serta di kawasan Pante Beureune, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya.

Bantuan dari Ketua DPW PAN Aceh yang juga menjabat Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI itu menggunakan dana pribadi. 

Bantuan tersebut diharapkan dapat mempercepat pemulihan sarana pendidikan agama agar anak-anak kembali belajar membaca Al-Qur’an dan mengikuti kegiatan pengajian seperti sediakala.

Bagi masyarakat Aceh, balee pengajian bukan sekadar tempat belajar membaca Al-Qur’an. Fasilitas ini juga menjadi ruang pembinaan akhlak, penanaman nilai-nilai Islam, serta pendidikan adab bagi anak-anak sejak usia dini. 

Tradisi tersebut telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Aceh dan menjadi bagian penting dari pendidikan keagamaan, berdampingan dengan pendidikan dayah.

Karena itu, pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada pembangunan rumah dan fasilitas umum, tetapi juga perlu mencakup sarana pendidikan agama. Dengan demikian, proses belajar dan pembinaan karakter generasi muda tidak terhenti terlalu lama akibat bencana.

Dalam momentum Hari Santri Nasional, Dek Gam juga mengajak masyarakat untuk kembali mengenang peran besar ulama dan santri dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Pesan tersebut disampaikannya dari Gedung MKD DPR RI di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri untuk mengenang Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama pada 22 Oktober 1945 di Surabaya, yang menyerukan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Di Aceh, semangat serupa tercermin dalam Maklumat Ulama Seluruh Aceh pada 15 Oktober 1945, yang menegaskan pentingnya mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kedua momentum sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa ulama memiliki peran penting, tidak hanya dalam kehidupan keagamaan, tetapi juga dalam perjuangan kebangsaan dan pembentukan karakter masyarakat.

Semangat perjuangan itu perlu diteruskan melalui tindakan nyata, termasuk menjaga keberlangsungan pendidikan agama, membina akhlak generasi muda, serta membantu masyarakat yang masih berjuang memulihkan kehidupan setelah bencana.

Bantuan pembangunan kembali dua balee pengajian di Pidie dan Pidie Jaya menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap keberlanjutan pendidikan Islam di Aceh.

Hari Santri Nasional bukan sekadar momentum untuk mengenang perjuangan ulama dan santri pada masa lalu, melainkan juga kesempatan untuk memperkuat komitmen menjaga pendidikan agama bagi generasi penerus.

Sebab, ketika bencana merusak bangunan, semangat anak-anak untuk belajar dan mengaji tidak boleh ikut terhenti.[]

Share:
Komentar

Berita Terkini